Tragedi Amsal, Profesi yg Dikebiri dan Disangkal

author avatar
Agung Wibowo
Apr 03, 2026 2 hours ago
hero image

Oleh : Gus Zain Rohmatika*)

Sedang viral kasus seorang bernama Amsal Sitepu di daerah Karo, Sumatera Utara. Ia adalah seorang desainer dan videografer. Kasus ini viral lantaran dugaan korupsi yang tidak masuk akal. Proposal diajukan, pihak desa menyetujui, proyek dikerjakan, selesai, dan pihak desa puas. Tidak ada masalah. Namun kemudian, melalui Jaksa, ia dituduh merugikan negara senilai 202 juta. Aneh bukan?

Kita tidak akan membahas hal itu. Perjalanan dan pembahasan melalui jalur hukum bisa diakses dimana saja. Saya hanya ingin menyatakan, bahwa pekerjaan kreatif memang ironis dan dipandang minor, apalagi dalam dunia pendidikan Pesantren. Pekerjaan kreatif, terkhusus bidang desain grafis, videografis, dan sebagainya masih minim diminati. Santri yg berbakat masih kurang dibina dan diwadahi. Keterbatasan sarana dan prasarana menjadi kendala yg pasti. Masih ditambah lagi bayang-bayang manipulasi hukum seperti ini, menjadi momok yg mungkin menyurutkan laju insan kreatif.

Tim media Pondok Pesantren Nahdlatussubban menjadi salah satu saksi perjalanan komunitas bakat dan kreativitas dalam bidang desain grafis. Mulai dari berpartisipasi dalam pelatihan Santri Desain Community, ikut nongkrong dalam komunitas Media Pondok Jatim, yg kemudian dilaksanakan perayaannya di Perguruan Islam Pondok Tremas, turut menjadi panitia dalam Santri Smart City yg diprakarsai dan diadakan juga di Tremas, serta bersama-sama dengan Tim media Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil, dan Perguruan Islam Pondok Tremas dalam mensukseskan berbagai acara dalam kegiatan internal di masing-masing pondok pesantren.

Peralatan dan SDM semuanya dilakukan sendiri. Beberapa event selalu mengandalkan sewa alat, karena keterbatasan. Pengambilan video, editing, mixing, rendering, sampai bisa ditampilkan dan dinikmati para pemirsa, baik online maupun offline, juga digawangi sendiri oleh tim. Kawan-kawan santri, yg setiap hari berkutat dengan kitab, dzikir, dan ibadah, tentu asing dengan satu hal ini. Namun dengan semangat dan kebersamaan -adanya rasa senasib dan kondisi yang sama- membuat para santri semakin kompak, walaupun dengan berbagai rintangan dan jalan yang terseok.

Di beberapa daerah, pondok pesantren yang sudah cukup besar -dengan jumlah santri yang banyak-, mendapatkan restu dari Kiai dan lembaga untuk terus mengembangkan syiar Islam dan pesantren melalui media online dan offline dengan kreativitasnya. Sebut saja, Pondok Lirboyo, Ploso, Tebuireng, Salafiyyah Syafiiyah Situbondo, Sidogiri, Gontor, Mathali'ul Falah Kajen, Sarang, Krapyak, dan lain-lain, yang alhamdulilah sudah cukup banyak untuk disebutkan. Restu tersebut, tentu selain izin dan mekanisme manajemen, juga anggaran untuk terus bisa berkhidmat dan menjaga inventaris, serta mengembangkannya sehingga tetap bermanfaat untuk umat Islam dan pondok pesantren.

Dengan kasus seperti ini, semoga tidak menyurutkan langkah-langkah kecil para santri yg ingin mengembangkan minat dan bakatnya dalam bidang desain dan videografis. Agar para santri turut mewarnai layar-layar smartphone dengan konten-konten yg bagus, layak, dan bermanfaat. Agar santri tidak lagi menjadi konsumen, namun menjadi produsen. Tidak sekedar pasif, namun aktif. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Gekrafs, bahwa tindakan dubbing, cutting, ide (dan sebagainya) itu dinilai 0 rupiah merupakan hal yang menghina profesi kreatif. Artinya, bahwa jangan sampai kita menjadi bagian dari orang yang menyepelekan kerja kreatif para insan dengan berbagai latar belakang, apalagi seperti kawan-kawan santri yang tadi disebutkan.

*Kepala SMP Islam, Ketua FKDT Pacitan, Sekretaris Rijalul Ansor Pacitan, Sekretaris RMI NU Pacitan